logo
Donatur | Alamat Kantor
       
Home > Article > Balasan Dari Kesabaran Yang Luar Biasa

Balasan Dari Kesabaran Yang Luar Biasa


Saya keluar untuk menjaga perbatasan di Uraisy Mesir. Ketika aku berjalan, aku melewati sebuah per-kemahan dan aku mendengar seseorang berdoa.

“Ya Allah, anugerahkan aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhoi. Dan masukkanlah aku dalam rahmatMu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” 
(QS. An-Naml: 19).

Aku melihat orang yang berdoa tersebut, ternyata ia sedang tertimpa musibah. Dia telah kehilangan kedua tangan dan kedua kakinya, matanya buta dan kurang pendengarannya. Beliau kehilangan anaknya, yang biasa  membantunya berwudhu dan memberi makan.

Lalu aku mendatanginya dan berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, sungguh aku telah mendengar doamu tadi, ada apa gerangan?”

Kemudian orang tersebut berkata, “Wahai hamba Allah. Demi Allah, seandainya Allah mengirim gunung-gunung dan membinasakanku dan laut-laut menenggelamkanku, tidak ada yang melebihi nikmat Tuhanku daripada lisan yang berdzikir ini.” Kemudian dia berkata, “Sungguh, sudah tiga hari ini aku kehilangan anakku. Apakah engkau bersedia mencarinya untukku?"

Maka aku berkata kepadanya, “Demi Allah, tidaklah ada yang lebih utama bagi seseorang yang berusaha memenuhi kebutuhan orang lain.” Kemudian, aku meninggalkannya untuk  mencari anaknya. Tidak jauh setelah berjalan, aku melihat tulang-tulang berserakan di antara bukit pasir. Dan ternyata anaknya telah dimangsa binatang buas. Lalu aku berhenti dan berkata dalam hati, “Bagaimana caraku kembali kepada temanku, dan apa yang akan aku katakan padanya dengan kejadian ini? Aku mulai berpikir. Maka, aku teringat kisah Nabi Ayyub‘alaihis salam."

Setelah aku kembali, aku memberi salam kepadanya.

Dia berkata, “Bukankah engkau temanku?” “Benar” Jawabku.

Dia bertanya lagi, “Apa yang selama ini dikerjakan anakku?” Aku berkata, “Apakah engkau ingat kisah Nabi Ayyub?” “Iya” Jawabnya.

Aku bertanya, “Apa yang Allah perbuat dengannya?” Dia berkata, “Allah menguji dirinya dan hartanya" . ”Bagaimana dia  menyikapinya?” tanyaku lagi, Dia berkata, “Ayyub bersabar.”

Aku katakan, “Apakah Allah mengujinya cukup dengan itu?” Dia menjawab, “Bahkan kerabat yang dekat dan yang jauh menolak dan meninggalkannya” Lalu aku berkata, “Bagaimana dia menyikapinya?”. “Dia tetap sabar. Wahai hamba Allah, sebenarnya apa yang engkau inginkan?” Ucap dia.

Kemudian aku berkata, “Anakmu telah meninggal, aku mendapatkannya telah dimangsa binatang buas di antara bukit pasir.” Dia mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan dariku keturunan yang dapat menjerumuskan ke neraka.”

Lalu dia menarik nafas sekali dan ruhnya keluar. Aku duduk dalam keadaan bingung apa yang harus aku lakukan, jika aku tinggalkan, dia akan dimangsa binatang buas. Jika aku tetap berada disampingnya, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika dalam keadaan tersebut, tiba-tiba ada segerombolan perampok mendatangiku.

Para perampok itu berkata, “Apa yang terjadi?” Maka aku ceritakan apa yang telah terjadi. Mereka ber-kata, “Bukakan wajahnya kepada kami!” Maka aku membuka wajahnya, lalu mereka memiring-kannya dan mendekatinya seraya berkata,  “Demi Allah, Ayahku sebagai tebusannya, aku menahan mataku dari yang diharamkan Allah dan demi Allah, ayahku sebagai tebusannya, tubuh orang ini menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sabar dalam menghadapi musibah.”

Lalu kami memandikannya, mengafaninya dan menguburnya. Kemudian, aku kembali ke perbatasan. Saat aku tidur dan aku melihatnya dalam mimpi, beliau kondisinya sehat. Aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau sahabatku?” Dia berkata,” Benar.” Aku berkata, “Apa yang Allah lakukan terhadap-mu?” Dia berkata, “Allah telah memasukkanku ke dalam surga dan berkata kepadaku, ‘Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.’” 
(QS. Ar-Ra’d: 24).

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” 
(QS. Ar-Ra’d: 28).

(Fit)

Mitra Kami

Beranda | Tentang | Program | Galeri | Artikel | Kegiatan | Kontak Kami
Copyright © MABI foundation 2013