logo
Donatur | Alamat Kantor
       
Home > Article > Air Mata yang Mulia

Air Mata yang Mulia


Dua Orang Kakak beradik berselisih memperebutkan hak pemeliharaan ibunya yang sudah tua renta hingga ke pengadilan. Di salah satu pengadilan Qasim, Kerajaan Saudi Arabia, berdirilah seorang lelaki bernama Hizan al Fuhaidi dengan berlinang air mata sehingga membasahi janggutnya. Karena ia kalah terhadap perseteruannya dengan saudara kandungnya.

Tentang apakah perseteruannya dengan saudaranya? tentang tanah kah? atau tentang warisan yang mereka perebutkan? Bukan karena itu semua. Ia kalah terhadap saudaranya terkait pemeliharaan ibunya yang sudah tua renta yang bahkan hanya memakai sebuah cincin timah di jarinya yang telah keriput.

Seumur hidupnya, beliau tinggal dengan Hizan yang selama ini menjaganya. Ketika beliau telah manula, datanglah adiknya yang tinggal di kota lain, untuk mengambil ibunya agar tinggal bersamanya, dengan alasan fasilitas kesehatan dll di kota jauh lebih lengkap daripada di desa.

Namun Hizan menolak dengan alasan, selama ini ia mampu untuk menjaga ibunya. Perselisihan ini tidak berhenti sampai di sini, namun hingga berlanjut ke pengadilan.

Sidang demi sidang dilalui, hingga sang hakim pun meminta agar sang ibu dihadirkan ke majelis. Kedua bersaudara ini menggotong ibunya yang sudah tua renta yang beratnya sudah tidak sampai 40 Kg.

"siapa yang lebih berhak tinggal bersamanya" Sang Hakim bertanya kepada si Ibu. Ibu pun memahami pertanyaan sang hakim, ia pun menjawab, sambil menunjuk ke Hizan, “Ini mata kananku!” Kemudian menunjuk ke adiknya sambil berkata, “Ini mata kiriku!"

Sang Hakim berpikir sejenak, kemudian memutuskan hak kepada adik Hizan, berdasarkan kemaslahatan bagi si ibu. Betapa mulia air mata Hizan yang bertetesan. Air mata penyesalan karena tidak bisa memelihara ibunya saat beliau telah menginjak usia lanjutnya. Dan, betapa terhormat dan agungnya sang ibu, yang diperebutkan oleh anak-anaknya hingga seperti ini.

Andaikata kita bisa memahami, bagaimana sang ibu mendidik kedua putranya hingga ia menjadi ratu dan mutiara termahal bagi anak-anaknya. Ini adalah pelajaran mahal tentang berbakti kepada orang tua khususnya seorang ibu, saat pada masa kini durhaka sudah menjadi budaya.

“Ya ALLAH, Tuhan kami, Anugerahkan kepada kami keridhoan ibu kami dan berilah kami kekuatan agar selalu bisa berbakti kepadanya” Aaamiiinn

(Fit)

Mitra Kami

Beranda | Tentang | Program | Galeri | Artikel | Kegiatan | Kontak Kami
Copyright © MABI foundation 2013