logo
Donatur | Alamat Kantor
       
Home > Article > Tak Perlu Perhitungan Dalam Membantu

Tak Perlu Perhitungan Dalam Membantu

Ada seorang wanita kaya yang sedang menikmati pemandangan di taman. Tak berapa lama, seorang anak yang lusuh duduk di sebelahnya. Wanita itu tidak bicara dan tidak pula melihatnya. Hanya saja bocah itu memegangi perutnya, sepertinya ia kelaparan. Wanita itu meliriknya dengan risih, setelah beberapa lama ia meninggalkan bocah itu.

Sambil berjalan wanita kaya itu membatin, "Anak jaman sekarang sudah diajari mengemis dan mengiba-iba. Aku tidak akan membiarkan sedekahku dimakan orang yang tak seharusnya."

Wanita itu lalu duduk di dekat air mancur. Ia merasa tenang dengan suara gemericik air. Namun ternyata ada seorang wanita tua lusuh yang duduk di atas triplek ber-roda seadanya. Suara rodanya cukup nyaring dan menarik perhatian wanita kaya itu.

Si wanita lusuh ini kakinya diperban dan berdarah-darah, tampaknya terluka dan lumpuh. Melihatnya, wanita kaya pun tak tega. “Betapa malangnya Wanita lusuh itu. Sudah tua dan terluka tapi masih saja mencari uang.” lalu wanita ini mengeluarkan selembar uang dan memberikannya pada wanita lusuh itu. “Ini, Bu. Buat makan dan berobat,” ujarnya. Wanita tua itu mengangguk tanda terima kasih dan pergi.

Melihat ibu tua yang baru saja ia bantu, hati wanita ini menjadi damai. Tak berapa lama ia melihat ada anjing yang lepas dari pemiliknya dan lari sambil menggonggong menuju wanita tua itu. Hendak memperingatkan pengemis tua tersebut, sang wanita dikejutkan dengan apa yang dilihatnya.

“GUK..GUK…!!” suara anjing itu menggonggong keras. Dan ternyata, pengemis tua tadi lari terbirit-birit dengan membawa papan tripleknya. “Lho, ternyata dia tidak lumpuh?” wanita ini terkejut dan merasa dibodohi.

Ia pun berjalan dengan sedikit kesal keluar taman. “Dasar pengemis zaman sekarang juga sukanya menipu!” gumamnya karena jengkel. Di depan gang taman, wanita tersebut bertemu dengan seorang pria tua yang kesulitan menyeberang. Ia tampak bersih dan bertopang pada sebuah tongkat.

“Tolong saya, Nak. Susah sekali menyeberang,” ujarnya. Wanita ini pun menjadi luluh dan iba, teringat akan ayahnya yang juga sudah tua. Maka ia membantu pria tua tersebut menyeberang. Saat sudah sampai tengah jalan, kakek itu berkata, “Sudah, Nak. Jalan sebelah sini sepi. Saya bisa sendiri.”

Wanita itu pun mengiyakan sambil berpesan agar kakek itu hati-hati. Tetapi, kekagetan kedua terjadi. Saat sampai kembali di sisi jalan, wanita itu melihat ada truk berkecepatan tinggi hampir menabrak sang kakek. “Awas, Keeek.” Ujar wanita kaya. Truk itu sudah membunyikan klakson. Tapi di luar dugaan, kakek ini malah terkejut dengan klakson super nyaring itu. Tongkat, sandal dan tas yang ia bawa berhamburan sementara ia melarikan diri. Lagi-lagi, wanita ini kena tipu.

Ketidakberuntungan yang bertubi-tubi membuat wanita ini sebal pada dirinya sendiri. Ia pun mendengus dan memasang wajah murung di taman. Ia ingin minta dijemput saja oleh sopirnya. Tapi saat mencari dompet dan HP nya, wanita ini tak menemukannya. “Di mana dompet dan HPku?” wanita ini mulai panik. Ia merogoh seluruh isi tas, tapi tak menemukannya di mana-mana. Ia pun memasang wajah bingung dan kembali memeriksa tasnya.

Tiba-tiba, sebuah tangan kecil menepuk-nepuk bahunya. Saat wanita itu menoleh, kedua tangan kecil itu memberinya ponsel dan dompet yang ia cari. Wanita itu melongo, ia adalah anak yang duduk bersamanya di bangku taman yang tadi. Wajahnya masih lusuh tapi wajahnya sudah tersenyum.

“Hati-hati, Bu. Di sini banyak copet. Bapak yang ibu bantu menyeberang tadi diam-diam mengambil dompet ibu saat ibu tidak sadar,” ujarnya polos. Wanita itu menerima dompetnya dengan masih melongo tapi tak bisa berkata apa-apa. Ia mulai berkaca-kaca dan memeluk anak itu. “Maaf ya, Nak.” ujarnya. Tak lama ia membelikan anak itu makan dan minuman.

Rupanya anak kecil itu bukan pengemis. Ia menjadi pemulung dan belum makan sejak pagi. Ia duduk di sana karena lelah dan ingin beristirahat. Tapi, wanita ini malah berprasangka buruk padanya.

Kalau kita ingin bersedekah pada orang lain, lakukanlah dengan tulus dan ikhlas. Tak perlu curiga siapa yang kita bantu. Tak perlu memperhitungkan untuk apa uang itu nantinya, biarlah menjadi urusan antara orang tersebut dengan Tuhan.

Hati kecil kita pasti tahu saat kita memang ingin tulus membantu mereka yang membutuhkan. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua.

Mitra Kami

Beranda | Tentang | Program | Galeri | Artikel | Kegiatan | Kontak Kami
Copyright © MABI foundation 2013