logo
Donatur | Alamat Kantor
       
Home > Article > Apakah Arti Hidup ini ?

Apakah Arti Hidup ini ?

Ada seorang pemuda yang hidup seorang diri, berpendidikan rendah, bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu hari, si pemuda merasa bosan dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di sawah orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

“Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya dalam hati. Dia berniat menggantung diri di sebatang pohon dengan menyiapkannya seutas tali.

Pohon yang dituju, saat melihat tingkah laku ingin bunuh diri seperti itu, tiba-tiba menolak lembut. “Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini.”

Dengan  menggerutu, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari tempat sebelumnya. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara pelan si pohon, “Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang terdapat begitu banyak lebah sedang bekerja dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.”

Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, pohon itu berucap penolakan kembali “Anak muda, tolong jangan mati di sini. Karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku.”

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, “Bahkan sebatang pohon pun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain”.

Segera timbul kesadaran baru. “Aku manusia, masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku mengakhiri kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan giat agar bermanfaat untuk makhluk lain”.

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

Nilai yang bisa kita ambil dari cerita ini adalah Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita merasa terbebani menjalani hidup ini dan saat tidak mampu lagi menahannya akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri. Kita harus mampu menyadari betapa indahnya kehidupan, dengan itu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita dengan ibadah, rasa optimis, penuh harapan dan cita-cita, serta selalu menguatkan jiwa untuk hidup yang lebih baik lagi.

Mitra Kami

Beranda | Tentang | Program | Galeri | Artikel | Kegiatan | Kontak Kami
Copyright © MABI foundation 2013