logo
Donatur | Alamat Kantor
       
Home > Article > Apakah Benar Tidurnya Orang yang Berpuasa pada Bulan Ramadhan Itu Berpahala ?

Apakah Benar Tidurnya Orang yang Berpuasa pada Bulan Ramadhan Itu Berpahala ?

Ramadan adalah Bulan ibadah yang memerintahkan untuk berpuasa, shalat tarawih, membaca al Qur’an, bersedekah bagi setiap muslim. Khusus di bulan ini berbagai amal ketaatan yang dilakukan akan dilipatgandakan dan Allah membuka pintu-pintu surga-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Apabila datang Ramadhan : pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Muslim)

Untuk itu hendaklah setiap muslim bersabar didalam melaksanakan amal-amal tersebut serta menjadikan waktunya penuh dengan kegiatan positif dan menyedikitkan waktu tidurnya. Tidaklah dibenarkan seorang yang berpuasa hanya menghabiskan sepanjang siangnya dengan tidur meskipun hal ini tidaklah diharamkan selama  dirinya masih menunaikan kewajiban-kewajiban shalat pada waktu-waktunya.

Orang yang mengisi waktunya hanya dengan tidur saja tidaklah banyak kebaikan dan keberkahan yang bisa diraih oleh dirinya karena telah kehilangan banyak kesempatan beramal dan tidak akan mendapatkan hikmah dari berpuasa yaitu untuk melakukan jihad dengan dirinya melawan berbagai tarikan-tarikan hawa nafsu dan syahwatnya selama puasa.

”Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” (HR.Imam Ghazali) terdapat didalam kitab ”Ihya Ulumuddin”
Namun al Iroqi mengatakan bahwa kami meriwayatkannya didalam ”Amalii Ibnu Mundah” dari riwayat Ibnul Mughiroh al Qowas dari Abdullah bin umar dengan sanad lemah atau mungkin Abdullah bin ’Amr.

Adapun hadits lainnya yang berbunyi,”Tidurnya orang yang berpuasa ibadah, diamnya tasbih, doanya diijabah dan amalnya diterima.” maka menurut Syeikh Al Bani didalam kitabnya ”as Silsilah adh Dhaifah wa al Maudhu’ah” (10/230) adalah lemah. Hadits itu diriwayatkan oleh Abu Muhammad bin Sho’id didalam ”Musnad Ibnu Abi Aufa” (2/120), ad Dailamiy (93/4) dan al Wahidiy didalam ’Al Wasith” (1/65/1) dari Sulaiman bin Amr dari Abdul Malik bin Umair dari Ibnu Abi Aufa. Al Bani mengatakan bahwa hadits ini palsu, Sulaiman bin Umar adalah Abu Daud an Nakh’i adalah seorang pendusta.

Pemilik kitab ”Faidhul Qodir” mengatakan bahwa didalamnya terdapat Ma’ruf bin Hasan ia adalah salah seorang yang lemah sedangkan Sulaiman bin Umar an Nakh’i adalah orang yang lebih lemah darinya.

Al Hafizh al Iroqi mengatakan bahwa didalam hadits itu terdapat Sulaiman an Nakh’i ia adalah salah seorang pendusta. (Faidhul Qodir juz VI hal 290)

Dengan demikian tidurnya orang yang berpuasa bukanlah ibadah karena hadits itu tidak benar berasal dari Rasulullah saw.

Mitra Kami

Beranda | Tentang | Program | Galeri | Artikel | Kegiatan | Kontak Kami
Copyright © MABI foundation 2013